Rabu, 15 Januari 2014

YANG TERBINGKAI MENJADI BANGKAI


Aku melirik jam dinding kamarku yang seolah menyapaku di larut malam itu, jam menunjukkan pukul 02.00 WIB, tapi mataku masih saja tak dapat terpejam mungkin karena aku kebanyakan memikirkan dia. Dia adalah . . . . sebut saja Edo, seseorang yang telah merebut hatiku semenjak sebulan yang lalu. Awal pertemuanku dengan dia karena sebuah kebetulan. Saat itu aku sedang menengok sahabatku, Putri. Kami telah menjalin persahabatan telah lama, namun dia memang tak pernah menceritakan tentang Edo, yang dia katakan tentang Edo, kalau Edo adalah kakaknya yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Singapura. 
Saat malam telah berlalu, pagi pun kembali terukir merasuki tiap insan yang kembali sibuk dengan berbagai aktivitasnya. Aku terbangun, dengan mata yang terasa kusut. Segera aku menyiapkan diri untuk berangkat ke tempat kerja walau sebenarnya aku malu dengan tampilan bentuk mataku, mengingatkanku pada mata panda. 
Sesampainya ditempat kerja semua teman-temanku menertawakanku.
"Soooonnn........ mata loe kenapa?? habis dicium nyamuk ya..?,” ungkap Dewi menggodaku disusul oleh tawaannya yang seolah olah memecahkan kesunyian di pagi itu. Tapi bukan hanya Dewi yang menertawanku. Putri, Intan, Hari, dan Yozua pun semuanya sama tertawa terbahak-bahak tapi aku tetap berusaha tenang, biarlah mereka tertawa tapi tetap saja aku tak menghiraukan godaan maupun cercaan satu persatu dari mereka yang telah kudapatkan karena dipikiranku hanyalan Edo dan Edo, tak ada yang lain. Sepertinya ku memang telah jatuh cinta kepada Edo.
Aku bekerja di toko bunga, dan ketika aku sedang sibuk menata berbagai bunga,  terlihat Putri mendekatiku, "Sonia… nanti, kak Edo mau ngajak kamu jalan, mau gak??" bisiknya lembut. 
"Masa sih?, bercanda ya, yang benar aja??" ucapku lirih, sepertinya Putri tau bahwa aku jatuh cinta kepada Kakaknya itu. Kuperhatikan wajah Putri dengan saksama, memang tak jauh beda dengan Edo, mereka memiliki bulu mata yang lentik dan wajah yang menawan.
"Bener banget, sumpah deh. Gimana?'' bisik Putri lagi, kali ini wajahnya sangat meyakinkanku. Dan aku pun menjawabnya dengan mengangguk sambil menyinggungkan senyum termanisku.
Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu pun datang, kulihat Edo telah menungguku diluar  dengan sabar, walau nampak sediki-sedikit dia menoleh ketempat kerjaku. Aku memandangi cermin berulang-ulang untuk meyakinkan diriku bahwa hasil polesan bedak dan lipstikku sudah menarik. Setelah kurasa cukup, aku pun berjalan kearahnya. Jantungku berdetak tak karuan, wajahku seolah merah semerah strawberry. Langkahku terasa berat apalagi saat melihat senyum menawan itu dan melihat lambaian tangannya yang seolah menghipnotisku. 
Kamipun akhirnya bergegas pergi, aku tak tahu kemana dia akan membawaku. tapi, ternyata di membawaku kesebuah pantai. Kami menikmati suasana sore di pantai itu dengan senang. Langit berwarna biru, burung-burung terbang menari seolah mereka ikut dalam suasana keceriaan hatiku di sore itu. Angin terasa menyapa rambutku yang terurai panjang. tak henti kupandangi wajah Edo bagaikan lukisan indah yang menyejukkan. Diapun tak henti-hentinya memercikkan air laut itu kepadaku.
Waktu terasa cepat berlalu, tapi kurasakan hari-hari yang kulalui tak cepat berlalu karena semenjak dipantai itu hingga hari ini pun, Edo selalu menghiasi hari-hariku membuatku terasa lebih berarti menjalani kehidupan ini dan ditiap malam kucoba untuk mengenang kebersamanku bersamanya semua nampak begitu indah. Tapi aku juga merasakan kesedihan, mengapa hingga saat ini dia tak pernah mengatakan cinta terhadapku. Padahal tiap kali bersamanya, aku selalu merasakan getar-getar cinta yang tumbuh diantara kita. Kucoba menepis pikiran itu.
"Mungkin dia lagi nunggu waktu yang tepat untuk menyatakannya, dan aku akan tetap menunggumu, Edo" aku bergumam sendiri.
Satu bulan telah berlalu, hari ini pun seperti biasa aku bekerja tapi Putri sudah 4 hari tidak masuk kerja. Aku coba menghubunginya lewat handphone namun, hasilnya nihil. Hp-nya gak aktif. Diapun tak memberi kabar ketempat kerja kami. Sama seperti halnya dengan Putri, begitupun dengan Edo. Hp Edo juga gak aktif tapi karena dia memang punya alasan yang tepat, dia mengatakan kalau 4 hari itu dia sedang berada di luar kota sedangkan hp-nya akan di-service
Akhirnya malam ini, aku putuskan untuk kerumah Putri. Sebelum memasuki halaman rumahnya, nampak banyak parkiran motor dan mobil disana-sini. Aku bertanya tanya dalam hati acara apa ini. Lalu mataku tersentak kaget ketika melihat sebuah janur kuning. Tiba-tiba pembantu Putri, bik Sumi memanggilku hingga membuatku kaget.
"Loh, Mbak Sonia, kok masi diluar, ayo cepetan masuk acaranya mau dimulai tuh!"
"Acara apa bik?" tanyaku lirih.
"Resepsi pernikahannya Non Putri dan Mas Edo, mbak!''
Hatiku begitu sakit luar biasa kurasakan kepalaku ingin meledak. Darahku terasa mendidih.
"Mereka kan adik kakak, bik?" suaraku terbata-bata.
"Mereka memang adik kakak tapi bukan sekandung, Sejak kecil mereka sudah di jodohkan," kata bik Sumi sembari meninggalkanku.
Pernyataan itu membuatku menangis histeris, ku tak memperdulikan pandangan-pandangan undangan yang berlalu lalang dihadapanku. Aku berjalan mencoba mendekati pelaminan mereka. Terlihat kebahagiaan nampak di wajah mereka. Tiba-tiba aku pun tak sadarkan diri dengan limpahan air mata, aku ingin tidur selamanya karena aku tak sanggup menahan sakit luar biasa atas sebuah pengkhianatan dari orang yang kusayangi dan kucintai. Ya ampun, jodoh mungkin memang tak akan kemana. Kalau jodoh juga pasti ketemu di pelaminan, tapi jadi tamu.

1 komentar: